TEKNIK
PENULISAN SURAT
Makalah
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia
Dosen pengampu M. Sofyan Al-Nashr,
M.Pd.I.
Disusun oleh :
1.
Isnaning Khikmah (213-14-277)
2. Muhammad
Shodiqin (213-14-289)
3. Siti Robiah (213-14-294)
Perbankan Syariah S1
Fakultas Ekonomi Bisnis Islam
Institut Agama
Islam Negeri (IAIN) SALATIGA
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Surat adalah
sebuah alat atau media komunikasi yang berupa tulisan yang berisi informasi,
pesan, pernyataan, atau tanggapan sesuai keinginan penulis surat. Surat
merupakan sarana komunikasi tertuis, surat dipandang sebagai alat komunikasi
yang paling efesien, efektif, ekonomis dan praktis dibandingkan dengan
komunikasi lain. Namun terkadang banyak kesalahan yang sering kita temukan
dalam halnya penulisan surat. Maka dari itu makalah ini akan membahas tentang
tehnik penulisan surat yang baik dan benar terutama pada surat resmi, sehingga
dapat memberikan informasi yang mendalam kepada pembaca.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana tehnik penilisan surat yang baik dan benar?
2.
Bagaimana membuat surat formal yang sesuai dengan
kaidah bahasa Indonesia?
C.
Tujuan Masalah
1.
Mengetahui tehnik penulisan surat yang baik dan
benar.
2.
Mampu membuat surat formal yang sesuai dengan kaidah
bahasa Indonesia.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Surat Resmi
Ditinjau dari
sifat isinya, surat adalah jenis karangan (komposisi) paparan. Didalam paparan
pengarang menjelaskan maksud dan tujuannya, menjelaskan apa yang dipikirkannya
dan dirasakannya. Ditinjau dari pengertiannya surat resmi atau disebut surat
dinas adalah :
1.
komunikasi tertulis yang disampaikan seseorang
kepada orang lain, yang digunakan untuk kepentingan resmi baik lembaga maupun
pemerintah.
2.
surat yang ditulis untuk keperluan komunikasi atau
kantor yang satu dan kantor yang lain atau antar organisasi. Surat dinas dibuat
oleh seseorang yang berkedudukan sebagai pejabat instansi pemerintah sehingga
surat ini disebut surat jabatan.
2.2 Fungsi surat
1.
Surat sebagai
alat komunikasi
Surat
merupakan salah satu alat komunikasi, yang dijadikan sebagai alat penyampai informasi dari penulis kepada
pembaca atau penerimanya.
2.
Surat sebagai wakil penulis dalam hal ini, penulis tidak perlu bertemu secara
langsung dengan orang yang dituju untuk menyampaikan informasi melainkan diwakili
oleh surat.
3.
Surat sebagai alat untuk menghemat waktu, tenaga,
dan biaya
berkomunikasi
dengan surat tidak perlu bertatap muka atau tidak berhadapan secara langsung.
Jadi berkomunikasi dengan surat dapat dilakukan dari jarak jauh. Oleh sebab itu
surat juga dapat menghemat waktu, tenaga, dan biaya.
2.3 Ciri Surat Resmi
1.
Menggunakan kop atau kepala surat
2.
Terdapat nomor surat, lampiran, dan perihal
3.
Menggunakan bahasa resmi yang sesuai dengan EYD atau
aturan bahasa yang baik dan benar
4.
Menyertakan stempel atau cap dari lembaga resmi
2.4 Gaya Bahasa Surat Resmi
1. Menggunakan
bahasa baku : Penggunaan kata-kata yang belum dikaji kebenarannya tidak dibenarkan. Penggunaan
kata-kata seperti gimana, ngapain, entar, kasih, bikin, dan kata-kata yang
seperti itu termasuk kata yang tidak baik.Karena kata-kata yang dianggap baik
adalah seperti bagaimana, mengapa, nanti, memberi, dan membuat.
2. Kata yang Lazim
: Pilihlah kata-kata yang lazim atau memakai istilah dalam bahasa Indonesia.
Seperti masukan bukan input dan peringkat bukan ranking.
3. Bahasa Efektif :
Bahasa yang efektif dapat dikenali dari pemakaian bahasa yang sederhana, jelas,
dan sopan.
2.5 Bagian-Bagian Surat Resmi
Surat resmi
memiliki bagian-bagian yang tetap, yatu:
1. Kepala Surat
Kepala surat ditulis lengkap memuat informasi yang
terdiri atas:
a. Nama instansi
b. Alamat lengkap
c. Nomor telepon
d. Nomor kotak pos
e. Lambang atau
logo
Dalam penulisan kepala surat hal-hal berikut perlu
diperhatikan:
a.
Nama instansi tidak disingkat, misalnya OSIS, tetapi Organisasi Siswa Intra Sekolah.
b. Kata Jalan tidak disingkat dengan Jl. atau Jln, tetapi Jalan dengan J kapital.
c. Kata telepon hendaklah ditulis dengan cermat,
yaitu Telepon, bukan tilpun, telpon, dan tidak disingkat
menjadi Telp.
d. Kata kotak pos hendaklah ditulis dengan
cermat yaitu Kotak Pos, jangan
disingkat menjadi Kotpos.
Kata telepon dan kotak pos diikuti oleh nomor tanpa
diantarai dengan tanda titik dua (:), sedangkan nomor-nomor yang mengikutinya
ditulis dengan tanpa tanda titik atau spasi pada setiap hitungan tiga angka.
2. Tanggal
penulisan surat
Tanggal
penulisan surat ditulis lengkap, yaitu tanggal ditulis dengan angka, bulan
ditulis dengan huruf yang diawali dengan huruf kapital, dan tahun ditulis dengan
angka. Sebelum tanggal tidak dicantumkan nama kota, karena nama kota sudah ada
pada kepala surat, setelah tanggal tidak ada tanda baca.
Contoh: 25 Mei 2015
3. Nomor, lampiran,
dan hal surat
Kata
nomor, lampiran, dan hal ditulis dengan diawali huruf kapital dan diikuti
dengan tanda titik dua (:). Kata nomor dan lampiran dapat disingkat menjadi No
dan Lamp.
|
Penulisan
nomor yang salah
|
Penulisan
nomor yang benar
|
|
Nomer : 110/U/OSIS/2007
|
Nomor : 110/U/OSIS/2007
|
|
No : 110/U/OSIS/2007
|
No : 110 / U / OSIS/2007
|
Kata lampiran atau lamp diikuti tanda titik dua (:)
dan disertai jumlah barang yang dilampirkan.Jumlah barang ditulis dengan huruf
bukan dengan angka dan tidak diakhiri dengan tanda baca.Awal kata yang
menyatakan jumlah ditulis dengan huruf capital.
|
Penulisan
lampiran yang salah
|
Penulisan
lampiran yag benar
|
|
Lampiran : 1 berkas
|
Lampiran : Satu berkas
|
|
Lam : 1 (satu) berkas
|
Lamp : Satu berkas
|
Kata hal
diikuti oleh tanda titik dua dan disertai dengan pokok surat yang diawali
dengan huruf kapital dan tanpa diberi garis bawah, dan tidak diakhiri tanda
baca. Pokok surat hendaknya dapat menggambarkan pesan yang ada pada isi surat.
|
Penulisan
hal yang salah
|
Penulisan
hal yang benar
|
|
Hal : Permohonan izin mengadakan
studi banding
|
Hal : Permohonan izin
|
|
Hal : Perpanjangan Izin
Penelitian
|
Hal : Perpanjangan izin
penelitian
|
4. Alamat Tujuan
Dalam
penulisan alamat surat hal-hal berikut perlu diperhatikan:
a. Penulisan nama
penerima surat harus cermat dan lengkap
b. Nama diri
penerima surat ditulis dengan huruf capital pada awal setiap unsurnya, bukan
huruf capital semua.
c. Penulisan alamat
surat juga harus cermat, lengkap, dan informatif
d. Untuk menyatakan
yang terhormat pada awal penerima surat cukup ditulis Yth. Dengan huruf awal huruf capital disertai dengan tanda titik.
Penggunaan kata kepada sebelum nama diri tidak diperlukan karena kepada
merupakan kata penghubung antar bagian kalimat yang menyatakan arah. Alamat
pengirim juga tidak perlu memakai kata dari
yang menyatakan asal.
e. Kata saudara ditulis dengan disingkat, Sdr. Sedangkan kata Bapak dan Ibu ditulis
lengkap tanpa disingkat.
f. Jika nama orang
yang dituju bergelar akademik sebelum namanya, seperti Dr, dr, Drs, atau memiliki pangkat seperti kolonel atau kapten,
kata sapaan Bapak, Ibu, Sdr tidak digunakan.
g. Kata Jalan pada
alamat surat tidak disingkat.
5. Salam pembuka
dan penutup
Contoh
salam pembuka:
a. Assalamu’alaikum
Wr.Wb.,
b. Salam sejahtera,
c. Dengan hormat,
Contoh salam penutup:
a. Hormat saya,
b. Hormat kami,
c. Wassalamu’alaikum
Wr.Wb.,
6. Isi surat
Secara
garis besar, isi surat dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu: bagian
pembuka, bagian isi, dan bagian penutup.
Contoh
bagian pembuka:
a. Pada tanggal 25
Mei 2015 kami akan menyelenggarakan lomba pembacaan puisi. Tujuan lomba adalah…
Contoh bagian penutup:
a. Atas perhatian
saudara, kami sampaikan terimakasih
Contoh penulisan bagian peutup yang tidak
dianjurkan:
a. Atas
perhatiannya diucapkan terimakasih
b. Demikian harap
maklum
c. Demikian
permohonan kami, atas perhatian dan kerjasamanya dihaturkan beribu-ribu
terimakasih
7. Pengirim surat
Penulisan
pengirim surat perlu memperhatikan hal-hal berikut;
a. Nama tidak perlu
ditulis dengan huruf kapital seluruhnya, cukup ditulis dengan huruf capital
pada huruf pertama setiap unsurnya.
b. Nama tidak perlu
diberi tanda kurung, digarisbawahi, dan tidak perlu diakhiri dengan tanda baca.
8. Tembusan
a. Jika tembusan
lebih dari satu, diberikan nomor urut tembusan.
b. Pihak yang
diberi tembusan hendaknya nama jabatan atau nama orang bukan nama instansi.
c. Dalam embusan
tidak perlu ada ungkapan seperti, untuk laporan, untuk diperhatikan, untuk
bahan pertimbangan.
Contoh penulisan tembusan yang benar:
Tembusan:
1. Kepala Sekolah
2. Pembina OSIS
3. Ketua OSIS
Contoh penulisan tembusan yang
salah:
Tembusan:
1. Kepala Sekolah
sebagai laporan
2. Pembina OSIS sebagai
pertimbangan
3. Ketua OSIS
sebagai bahan pertanggung jawaban
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Surat resmi adalah komunikasi
tertulis yang disampaikan seseorang kepada orang lain, yang digunakan untuk
kepentingan resmi baik lembaga maupun pemerintah. Surat dapat berfungsi sebagai
alat komunikasi, sebagai wakil penulis, dan sebagai alat untuk menghemat waktu,
tenaga, dan biaya. Adapun bagian-bagian surat resmi yaitu: kepala surat atau
kop surat, tanggal penulisan surat, nomor lampiran dan hal surat, alamat
tujuan, salam pembuka dan penutup, isi surat pengirim surat, dan tembusan.
DAFTAR
PUSTAKA
Moeliono, Anton M. Santun Bahasa. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama . 1991.
Zahara, Eni Rita. Bahasa Indonesia
SMK dan MAK.Jakarta : Penerbit Erlangga. 2009.
Utari, Indah. Bahasa Indonesia. 2013. http://indrieutari.blogspot.com. Diakses pada tanggal 27 Mei 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komententar anda dengan bijak